HR. Al-Tirmidzy

"Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, Allah akan mengaruniakan kekayaan dalam hatinya dan akan mengumpulkan untuknya kekuatannya dan dunia akan datang kepadanya dengan penuh ketundukan. Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia. Allah akan meletakkan kefakiran di depan matanya, memecah keutuhannya, sementara dunia hanya akan datang padanya sesuai yang ditakdirkan untuknya" (HR. Al-Tirmidzy)

ahlan wa sahlan

10 Maret 2012

Jam Kantor

Bismillah…

Sebuah tulisan seseorang menyentuh dalam di sanubariku. Mengingatkanku akan setiap gumaman dan pembicaraan sekitarku seminggu ini.

Barangkali kelak tulisan ini akan menghajarku di kemudian hari, barangkali tulisan ini akan mencibirku di kemudian hari atau minimal mereka yang tak setuju akan memakiku dalam hati. Toh itu prasangka burukku terhadap tulisan ini, tapi insya Allah prasangka baikku jauh lebih besar dari itu semua. Insya Allah bermanfaat… minimal untuk pribadi yang sering bersikap bodoh ini.

Kemarin… dan hari-hari sebelum kemarin. Yang selalu diperbincangkan adalah hal itu-itu saja. Pembagian uang jasa yang tidak adil, pembagian jasa yang sedikit dan segala hal tentang itu. Sebelum jasa dibagi, maka ributlah semua bertanya “kapan jasa dibagi?” awal bulan, tengah bulan dan akhir bulan, tak hentinya kita bertanya. Dan alhamdulillah setelah di bagi akan ramailah pula kita berkicau mempertanyakan “mengapa saya cuma segini??” meskipun sebagian besar dari kita akan melanjutkannya dengan kalimat syukur “alhamdulillah.. disyukuri saja sedikit banyaknya” (tapi kalo pindah tempat diulangi lagi pertanyaan dan keluhannya)

Seorang kawan berkata padaku, “bukannya kita tidak bersyukur, cuma kalau tidak sesuai dengan pekerjaan dan jasa itu kan tidak adil. Tidak salah kan kita menuntut apa yang memang hak kita?”

Entahlah kawan.. kalian lebih tahu dan lebih cerdas dengan segala keilmuan kalian tentang hal itu.

Bismillah..
Tidak tahu sejauh mana angin materialis ini membawaku.
Sepertinya terlalu jauh, hingga akupun ikut sering mengeluh dan menggerutu

Sedikit kisah juga di pekan yang lalu. Dia yang sangat rajin, tapi mengeluhkan pekerjaannya. Dan dia yang sangat baik dikatakan tidak ikhlas bekerja. Diapun berkata “ikhlasja… ikhlas sekalija kemarin..” tahukah kau kawan? Orang yang sering mengatakan dirinya ikhlas adalah orang yang keikhlasannya dipertanyakan. Pemahaman kita tentang ikhlaslah yang mungkin ingin dipertanyakan lagi.. karena bila kita benar ikhlas karena Allah, mungkinkah kita mengeluhkan apa yang ditetapkan Allah atas kita.

Huaahhh… aku mengeluh lagi…
Untuk apakah aku bekerja? Untuk uang… itu jawaban pasti seperti catatan yang kubaca sebelumnya. Dan alhamdulillah, kudapatkan uang itu setiap bulannya di rekeningku. Lantas jasa itu apa? Maka sebutlah dia sebagai bonus yang bukanlah prioritas, karena aku telah bekerja dan menerima gaji.

Sedikit lagi, kukutip perkataan”ku” lagi. “edede… setengah matikumi kerjai baru seratus ribuji jasaku…”
Begitulah.. aku mengeluh lagi.

Lalu datanglah diriku yang satu. Yang sok tahu. Menceramahiku..
“jadi kalo sedikit jasamu, kau tidak mau kerja pekerjaan wajibmu? Lantas hilangkah nilai gaji yang kau terima berjuta juta itu?”
kudiam saja membiarkan sang diriku berceloteh.
“mengapa kau sibuk memperbincangkan jasa yang sedikit, sedang kau telah memperoleh hakmu. Yaitu gaji yang berjuta-juta dan berjuta-juta pula pengangguran di luar sana menginginkannya.”
“sudah benarkah kerjamu? Laporan datang terlambat, berkas sjp pasien kau selip kesana kemari hingga merugikan tempatmu bekerja. Belum lagi pulpen, kertas dan barang-barang kantor yang tak terhitung banyaknya berada di tas dan rumahmu.”
“itu belum termasuk waktu terlambatmu masuk kantor dan jam-jam kantor dimana kau ada di luar sana. Belum pula termasuk waktu tidur dan ngobrolmu di jam kantormu”

Aku menunduk malu kini….
“pantaskah…? Pantaskah aku menuntut jasa yang sama seperti di instansi yang lain, dimana mereka tak punya waktu untuk duduk sekalipun?”
Sedikit aku berdalih… “tapi, memang nilai jasa kami disini di bawah sekali…”
“dan memang orang-orang tertentu menikmati lebih banyak dari kami. Padahal pekerjaan mereka tidak seberat pekerjaan kami…”
ah.. begitulah manusia keras kepala saat dinasehati. Dia akan mengeluarkan seribu alasan untuk membenarkan setiap kelakuannya. Padahal bila mau sedikit saja menginsafi, barangkali dia dapat hidup tenang tanpa terbebani. Padahal bila ingin sedikit menyadari, patutnya was-was lah yang harusnya menghantui. Suatu saat uang-uang ini akan dimintai pertanggungjawabannya. Dan segala pulpen dan inventaris yang “terikut” pulang akan menjadi bumerang di akhirat nanti.

Ya Allah.. buruknya diri ini. mengapa dia tak mampu bekerja dengan diam? Menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu dan semaksimal mungkin, menjaga agar yang halal yang masuk kedalam mulut, tas dan rumah-rumahnya. Mengapa dia tidak pandai bersyukur? Bukankah bonus itu dari Allah?

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Fathir ayat 2.)

Ayat ini cukup untuk meyakinkanmu. Rezeki itu seluruhnya dari Allah. Dia-lah yang menurunkan jumlahnya sesuai dengan keinginannya. Dan bila kita merasa rezki kita tertahan, maka seharusnyalah kita bertanya pada diri kita. Mengapa dia tertahan? mungkin karena kita kurang pantas menerimanya. atau mungkin Allah mem-pendingnya untuk sebuah kebaikan dimasa nanti. Allah Maha Tahu dan kita tidaklah lebih tahu.

Sesungguhnya Rosulullah telah menyampaikan bahwa tidak akan mati seorang hamba sampai disempurnakan rezekinya. Ada kisah seorang yang berminggu-minggu koma akhirnya bangun dari komanya. Dia meminta semangkuk bubur. Tidak lama setelah menikmati semangkuk buburnya, meninggallah dia. Ternyata, masih ada semangkuk bubur jatahnya di dunia. Subhanallah…

Ada pula seorang tua yang mendadak terkenal dan menjadi jutawan karena lagunya. Di masa-masa tenarnya dia menemui ajalnya. Innalillah.. Inilah rezeki yang bila memang telah ditetapkan maka tidak akan mati seorang hamba kecuali dia telah menerima semua rezekinya.

Karena rezeki itu telah ditetapkan, maka seharusnyalah kita tenang. Seharuslah kita memperbaiki bagaimana kita mendapatkannya…

“Wahai diriku…
Bagaimana kini? Melihat laporanmu yang amburadul. Sjpmu yang kacau. Ruanganmu yang malas kau bersihkan. Dan jumlah tidur yang lebih banyak daripada kerjamu. Maka? Menuntutlah bila kau tak punya malu…”
Bisik-bisik kujawab dengan penentangan yang pelan…
“kalo malam tidak adaji pasien gaaang.. jadi tidur jeki… :)”

......diriku oh diriku.....


Makassar… 15 Rabiul akhir 1433 H

25 Maret 2011

Kisah Adi dan Harnisa

Bismillahirrahmanirrahim…

Makassar, 25 maret 2011

Dua anak bersaudara itu hampir seperti mumi yang terbungkus perban. Sekujur tubuh mereka dibalut perban karena penyakit yang menggerogoti tubuh mereka. Sesuatu yang akhirnya menghilangkan senyuman dan keceriaan anak-anak dari mata mereka.

Kawan… ceritakan masalah hidupmu yang selalu kau keluhkan setiap harinya, maka aku akan berkisah tentang mereka. Tentang adi dan harnisa. Maka, semoga kau tak lagi angkuh dengan keluh kesah derita hidupmu.

Dari kisah yang diceritakan oleh seorang kerabatku yang ada hubungan dengan anak itu. Ayah anak itu hanyalah seorang petani dengan kehidupan yang memiriskan hati. Sedang sang ibu telah meninggal dunia karena sakit yang tiba-tiba. Menyusul 3 saudara ibunya dan dua orang lagi dalam keluarga itu, semuanya meninggal dalam waktu sekitar dua tahun.
Ini mungkin yang dikatakan musibah diatas musibah…

Akhirnya sang ayah pindah ke pinggir gunung, daerah hutan di Barru. Yang awalnya hanya adi yang menderita kusta akhirnya adiknya pun tertular. Karena obat yang tidak teratur dan memang tidak ada wanita di rumah itu yang mampu merawat mereka. Maka, saat penyakit itu semakin parah menggerogoti mereka, mereka pun tiba di rumah sakit ini.

Bila kita terbiasa dengan parfum dan aroma yang mewangi di pakaian dan rumah kita, maka mungkin kita tak akan mampu bertahan saat melihat mereka di hari hari pertama sebelum perawatan intensif. Bau yang timbul dari luka di skujur tubuh mereka. Sementara sesekali mereka meringis saat lalat datang mengganggu dari segala arah. Mereka hanya mampu meringis meminta tolong pada sang ayah untuk mengipas agar lalat tak menyentuh dan menambah perih mereka.
Kesabaran apa yang ada di dada sang ayah dengan semua musibahnya?

Tadi, aku kesana lagi bersama K Tati. Kawan-kawan perawat ternyata telah menemani mereka. Merawat luka sembari menghibur mereka. Memberi semangat dan dorongan.
Sementara Adi menangis dan terus menangis kesakitan saat cairan pembersih luka terasa perih di tubuhnya. Menangis dan berteriak, menyedihkan adiknya yang dia dengar sudah tak lama lagi. Menangis.. hingga susu ultra, oreo dan wafelatos yang kubawakan pun tak mampu meredam kesedihan dan airmatanya.
“adi… sabar nah… semua orang disini sayang sama Adi.. Istighfar Adi.. berdoa..” kata salah seorang perawat.
Maka Adi pun bersuara nyaring berdoa, mendoakan adiknya, beristighfar dan terus menyebut nama Allah sembari menahan sakit yang dirasanya.
Sementara Harnisa, putri kecil itu hanya terdiam dengan tatapan kosong memilukan hati saat perbannya diganti. Dia telah kehilangan sebagian wajahnya… dan kehilangan kehidupan kanak-kanaknya.. maka beban bagaimana yang ada di dada kecil itu?

Kawan… dia adik kita. Dia saudara kita. Bila kita terbiasa larut dengan masalah yang kita kira kitalah orang yang paling menderita sedunia. Maka tengoklah, dua anak yatim itu. Tengoklah ayah itu. Sungguh, bila beban mereka dikalungkan di leher kita, mungkin kita akan mati di tempat karena beratnya.

Dengan ini, kuminta dengan tulus.. Doakanlah mereka… Sungguh kawan.. Doakan mereka..
Bila tanganmu mampu, maka bantu mereka dengan wujud nyata, dengan cinta yang nyata. Bila tidak, bersungguh-sungguhlah dalam mendoakan mereka…

“Ya Allah… Dua adikku tengah Engkau uji dengan penyakit seperti yang Kau ujikan kepada salah seorang Nabi-Mu. Maka kuasa-Mu meliputi segala sesuatu, jadikanlah mereka lulus ujian dan menjadi sehat. Sehingga mereka bisa menjadi pemuda-pemudi yang sholeh dan sholihah kelak… Insya Allah… Amin ya Robbal Alamin…”

28 Januari 2011

Mau Tidur

Ingin menulis sedikit... menumpahkan sedikit agar tak jadi penyakit

tak ada komentar dariku
karena pertempuran ini melelahkanku
sementara musuh terus membisikiku dalam dimensi yg aku tak tahu
apakah yg benar itu dia? aku? atau kau?

bukan lagi tentang bunga dan kupu kupu
bukan melodi dalam mimpi
karena semua telah luruh dalam kubangan debu
sedang mimpi hanyalah ilusi

tentang apa ini?

tentang kebodohan mungkin?
atau kelengahan dalam kelalaian
atau terjatuh dalam permainan penipuan

Ya Rabbi...
sampai kapan kelalaian ini??


Seseorang bertanya : "apakah syaitan itu pernah tertidur??"
Sang syaikh mjawab : "seandainya syaitan itu pernah tertidur tentu kita dpt beristirahat sejenak, tapi tidak. Syaitan itu tidak pernah tidur!!!"

"dia" tidak pernah tidur, tp selalu menyuruhku "tidur"
uuuugggghhh....

a'udzubillahiminassyaitonirrojiim......

07 Desember 2010

koper dan ransel

Makassar dalam untaian oktober

Bismillah…

Biarkan aku menulis ini. Karena barangkali ini menjadi tulisanku yang terakhir sebelum akhirnya aku pergi dengan penerbangan pertama di hari pertama.
Bagaimana kan kulewati masa ini?
Disaat kecemasan datang silih tak berhenti.
Kecemasan dunia dan kecemasan akhirat.
Aku sungguh tercekat…
Dimanakah orang-orang mati itu?
Mereka sekalipun tak menjawab saat aku sibuk memanggil-manggil

Esok aku pergi…
Apa yang kubawa?
Aku membawa terlalu banyak hal
Sangat banyak.
Amat sangat banyak.
Sehingga beban di punggungku semakin terasa berat dan nyeri pinggangku mulai kembali menggeliat.
Koperku penuh dengan baju dan perlengkapan
Ransel pun kupenuhi buku dan segala peralatan
Tapi andai yang penuh hanya itu maka mungkin tak seberapa penatnya

Aku membawa banyak uang dan beban. Dan keduanya sangat menyebalkan. Aku yang tahu mengapa
Hatiku dipenuhi dosa dan kebaikan. Dan keduanya merisaukanku. Aku juga yang tahu apa sebab
Sedang kepalaku dipenuhi pikiran dan kecemasan.
Bukan sekedar tentang disana tapi juga tentang kelak yang disana.
Dengan semua beban itu, bagaimana aku melangkah?

Kuhela nafasku…
Kupandangi diriku yang bernafas satu-satu
Sedikit lagi yang tersisa tentang waktu
Untuk itu bantu aku..
Kumohon… berdoalah untukku…


Makassar dalam melodi November

Bismillah…

Disini aku kembali berdiri. Di kotaku ini
Dalam senyuman yang tak mau berhenti
Perjalanan jauhku kemarin berakhir dengan kisah-kisah yang kusyukuri
Saat aku menahan nafas diatas awan, dan langit mempersembahkan keindahannya.
Saat mataku basah karena pepohonan tinggi di sekelilingku
Saat sejuk hijau daun teh memenuhi mataku
Saat air yang mengalir jernih di sungai kecil ternyata terus mengalir ke dalam jiwa dan menyentuh sudut yang selalu kotor.
Disitulah dia… mengalir dan menjadi titik haru dimataku.

Subhanallah… Maha Suci Rabb-ku atas alam yang mempesona
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?
Dan tangispun semakin menjadi di mesjid puncak gunung itu.
Subhanallah…

Kini disini..
Bebanku masih begitu.
Sesak dijiwaku masih menyempitkan jalan nafasku.
Tapi sang perjalanan memberiku senyum yang tak mau berhenti
Memberiku pelajaran hakikat dari sebuah arti
Maka meski waktu pulang dengan penerbangan terakhir.
Cuaca buruk merisaukan seolah aku akan jatuh lalu mati.
Disini aku kembali
Dan aku takkan berhenti berlari
Karena aku semakin yakin.. dengan apa yang kuyakini..

Alhamdulillah…

(Ya Robb.. jadikan aku semakin mencintai-Mu.. semakin dan semakin)

09 Januari 2010

cinta hmm...

Bismillahirrahmanirrahim…

Teman, jangan memintaku membicarakan cinta denganmu
Karena cinta yang kutahu dan kumahu hanyalah cinta-Nya
Dan dari yang mencintai-Nya lebih dari dia mencintaiku

Sedikit bila bisa disebut syair…

Dia berlari beterbangan bersama kupu-kupu dan bunga-bunga
Sesekali tersenyum menoleh kosong pada sekitar
Angin melembuti sementara awan beriring iring di belakangnya
Cinta dia sebut kebebasan atau kebebasan yang dia sebut cinta

Dalam ladang dia menemukan layang-layang
Terpesona, jatuh dalam warna warni layang-layang yang menari
Benang tajam mengirisnya, terluka tapi semakin kuat genggamannya
Darah mengalir bersama air mata, tapi takut membuatnya bertahan
Cinta dia sebut takdir atau takdir dia sebut cinta

Ditengah ilalang dia masih bermain layangan
Benangnya terputus layangnya terbang menjauh
Darah berhenti mengalir, luka menutup, dia tersenyum lega
Langit yang kosong membuatnya terbelalak
Dia tersadar, awan putih dan langit biru slama ini tak terlihat karena layangan itu
Dia terpingkal meratapi kebodohan, tertawa karena tertipu sang raja kebohongan
Cinta dia sebut emosi nafsu atau emosi nafsu dia sebut cinta

Dalam hutan…
Dia tak berlari, hanya berjalan
Di malam yang ada bintang dan di siang yang terang benderang
Berpikir tentang mentari dan merenung bersama bulan
Melihat yang mati dan tempat dia akan pulang
Langit… bagaimana dia ditinggikan
Alam… bagaimana dia dihamparkan
Tidaklah diciptakan itu semua kecuali untuk orang-orang yang mau berpikir
Lalu,
Apabila langit terbelah, bintang-bintang jatuh berserakan, laut dijadikan meluap dan kuburan-kuburan dibongkar…
Maka setiap jiwa akan tahu apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.
Diapun diam…
Diapun terdiam..
Diapun terpekur dalam diam…
Cinta dia sebut SATU atau SATU dia sebut cinta

Teman… jangan bicara cinta denganku, takut syaithan ikut mendengar.
Takutku, karena pertahananku tak sekuat dirimu
Takutku, karena bodohku melebihi ilmuku
Takutku, karena tanpa ilmu dan iman, cinta hanyalah seonggok nafsu.

“mereka merasa seakan-akan sebentar saja tinggal di dunia pada waktu sore atau pagi hari…”