HR. Al-Tirmidzy

"Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, Allah akan mengaruniakan kekayaan dalam hatinya dan akan mengumpulkan untuknya kekuatannya dan dunia akan datang kepadanya dengan penuh ketundukan. Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia. Allah akan meletakkan kefakiran di depan matanya, memecah keutuhannya, sementara dunia hanya akan datang padanya sesuai yang ditakdirkan untuknya" (HR. Al-Tirmidzy)

ahlan wa sahlan

28 Maret 2012

Entahlah


Bismillahirrahmanirrahim….

Dia menyapa hati dalam kebekuan
Membuka mata dan sedikit mencoba menggembirakan hati
Tertunduk bisu
Sebelum akhirnya semua merapuh dan patah dalam gelimangan salah

Menangis terisak isak
Sendiri….
Mengapa tak ada yang lain disini?
Mengapa hanya semut yang sepertinya bergidik menahan jijik

Mati…
Sang musuh mengajak berandai-andai
“andai mati, maka habis perkara”
“andai semua bisa diulang”
“andai aku bukanlah aku”
YAAA!!! Teriakku mengiyakan!
Menampiknya meski aku sepertinya sesosok teman
“andai tak ada hisab maka mati saja”
“andai tak usahlah ada hari perhitungan”
“andai ku tak tahu sumpahmu, kan kupercaya kau”
Bodoh pikirku…
Tenggelam dalam kebodohan lalu sang teman kelak mudahnya berkata,
“aku berlepas diri dari segala yang kau lakukan…”

27 Maret 2012

Hentikan kelalaian ini!

Bismillah….

Dimana menginjakkan kaki?
Bahkan dia tak tahu lagi dimana kini sang kaki berada.
Seperti sebuah kisah yang sangat menyedihkan menimpa padanya.
Dia tertunduk pilu dalam belaian sang angin.

Demi Dia yang jiwaku berada dalam genggamanNya,
aku benar-benar menyesali diriku sendiri,
saat waktu bergerak membunuhku tapi aku malah tertawa cekikikan bermain pasir di pinggir sungai.
Sungguh… andai diriku benar benar diriku.
Bahkan aku tak tahu siapa yang memberi tahuku jalan menuju sungai hingga aku berada disana.
Duhai… jiwaku benar-benar bermain sendiri.
Tak tahu aku.

Maka.. kemana aku akan berlari?
Saat bertaut betis kanan dan betis kiri?

Duhai sang engkau..
Sampai kapan engkau kan mengejarku? Menyebabkan keletihan di hati dan jiwaku?

Duhai…
Janganlah begitu padaku..
bahkan saat aku telah berusaha mendaki, bisikan menggangguku hingga aku terpeleset dan terjatuh lagi.

Janganlah menipuku dengan seperti ini.
Karena jiwaku selalu ingin bermain ayunan, bergerak kesana kemari bersama angin. Sedang sang waktu mengawasi dengan tiada henti.

Bila telah habis waktuku….
Maka sang sungai hanya akan menangisiku
Dan sang pasir tak mampu berbuat apapun
Maka siapa yang akan menolongku?

Setiap kematian itu memiliki sekarat
Sakitnya seperti gunung yang dihimpitkan ke dada
Seperti ratusan pisau yang dihujamkan ke tubuh
Sedang diri hanya mampu menatap tanpa kata
Maka siapa yang akan menolongku?

Disini aku terhenti..
Sendiri..
Berpikir..
Siapa yang akan menolongku nanti?

Buku dalam Tulisan

Buku dalam Tulisan...

Mendilemakan secangkir kehidupan
Atas nama cinta, atas nama sayang

Tersenyum terpingkal dalam keremangan hujan
Berharap… dalam harapan yang larut dalam angan
Panjang melayang menantang gelombang yang datang menerjang
Padahal sayapnya lemah, layarnya tak terkembang

Dia tampak bodoh
Tahulah bahwa dia memang senantiasa bodoh
Berlari mengejar bayangan
Mudah tergoda oleh para bisikan
Dan diakhir kisah dia merana dalam luka yang menganga

Khawatirku padanya…

Pada jiwa yang terlupa tentang bagaimana kembalinya

Hujan melembuti tanah
Bermain canda bersama para cacing tanah
Membuat hati bertanya pada nisan

Duhai… inikah akhir? Atau malah awal dari semua tulisan?