Bismillahirrahmanirrahim…
Makassar, 25 maret 2011
Dua anak bersaudara itu hampir seperti mumi yang terbungkus perban. Sekujur tubuh mereka dibalut perban karena penyakit yang menggerogoti tubuh mereka. Sesuatu yang akhirnya menghilangkan senyuman dan keceriaan anak-anak dari mata mereka.
Kawan… ceritakan masalah hidupmu yang selalu kau keluhkan setiap harinya, maka aku akan berkisah tentang mereka. Tentang adi dan harnisa. Maka, semoga kau tak lagi angkuh dengan keluh kesah derita hidupmu.
Dari kisah yang diceritakan oleh seorang kerabatku yang ada hubungan dengan anak itu. Ayah anak itu hanyalah seorang petani dengan kehidupan yang memiriskan hati. Sedang sang ibu telah meninggal dunia karena sakit yang tiba-tiba. Menyusul 3 saudara ibunya dan dua orang lagi dalam keluarga itu, semuanya meninggal dalam waktu sekitar dua tahun.
Ini mungkin yang dikatakan musibah diatas musibah…
Akhirnya sang ayah pindah ke pinggir gunung, daerah hutan di Barru. Yang awalnya hanya adi yang menderita kusta akhirnya adiknya pun tertular. Karena obat yang tidak teratur dan memang tidak ada wanita di rumah itu yang mampu merawat mereka. Maka, saat penyakit itu semakin parah menggerogoti mereka, mereka pun tiba di rumah sakit ini.
Bila kita terbiasa dengan parfum dan aroma yang mewangi di pakaian dan rumah kita, maka mungkin kita tak akan mampu bertahan saat melihat mereka di hari hari pertama sebelum perawatan intensif. Bau yang timbul dari luka di skujur tubuh mereka. Sementara sesekali mereka meringis saat lalat datang mengganggu dari segala arah. Mereka hanya mampu meringis meminta tolong pada sang ayah untuk mengipas agar lalat tak menyentuh dan menambah perih mereka.
Kesabaran apa yang ada di dada sang ayah dengan semua musibahnya?
Tadi, aku kesana lagi bersama K Tati. Kawan-kawan perawat ternyata telah menemani mereka. Merawat luka sembari menghibur mereka. Memberi semangat dan dorongan.
Sementara Adi menangis dan terus menangis kesakitan saat cairan pembersih luka terasa perih di tubuhnya. Menangis dan berteriak, menyedihkan adiknya yang dia dengar sudah tak lama lagi. Menangis.. hingga susu ultra, oreo dan wafelatos yang kubawakan pun tak mampu meredam kesedihan dan airmatanya.
“adi… sabar nah… semua orang disini sayang sama Adi.. Istighfar Adi.. berdoa..” kata salah seorang perawat.
Maka Adi pun bersuara nyaring berdoa, mendoakan adiknya, beristighfar dan terus menyebut nama Allah sembari menahan sakit yang dirasanya.
Sementara Harnisa, putri kecil itu hanya terdiam dengan tatapan kosong memilukan hati saat perbannya diganti. Dia telah kehilangan sebagian wajahnya… dan kehilangan kehidupan kanak-kanaknya.. maka beban bagaimana yang ada di dada kecil itu?
Kawan… dia adik kita. Dia saudara kita. Bila kita terbiasa larut dengan masalah yang kita kira kitalah orang yang paling menderita sedunia. Maka tengoklah, dua anak yatim itu. Tengoklah ayah itu. Sungguh, bila beban mereka dikalungkan di leher kita, mungkin kita akan mati di tempat karena beratnya.
Dengan ini, kuminta dengan tulus.. Doakanlah mereka… Sungguh kawan.. Doakan mereka..
Bila tanganmu mampu, maka bantu mereka dengan wujud nyata, dengan cinta yang nyata. Bila tidak, bersungguh-sungguhlah dalam mendoakan mereka…
“Ya Allah… Dua adikku tengah Engkau uji dengan penyakit seperti yang Kau ujikan kepada salah seorang Nabi-Mu. Maka kuasa-Mu meliputi segala sesuatu, jadikanlah mereka lulus ujian dan menjadi sehat. Sehingga mereka bisa menjadi pemuda-pemudi yang sholeh dan sholihah kelak… Insya Allah… Amin ya Robbal Alamin…”
Biarkanlah aku berpikir... terus berpikir.... Karena kuharap aku termasuk "orang-orang yang berpikir"....
HR. Al-Tirmidzy
"Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, Allah akan mengaruniakan kekayaan dalam hatinya dan akan mengumpulkan untuknya kekuatannya dan dunia akan datang kepadanya dengan penuh ketundukan. Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia. Allah akan meletakkan kefakiran di depan matanya, memecah keutuhannya, sementara dunia hanya akan datang padanya sesuai yang ditakdirkan untuknya" (HR. Al-Tirmidzy)