Biarkanlah aku berpikir... terus berpikir....
Karena kuharap aku termasuk "orang-orang yang berpikir"....
HR. Al-Tirmidzy
"Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, Allah akan mengaruniakan kekayaan dalam hatinya dan akan mengumpulkan untuknya kekuatannya dan dunia akan datang kepadanya dengan penuh ketundukan. Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia. Allah akan meletakkan kefakiran di depan matanya, memecah keutuhannya, sementara dunia hanya akan datang padanya sesuai yang ditakdirkan untuknya" (HR. Al-Tirmidzy)
Hidup adalah sebuah proses perjalanan panjang menuju akhir. Sebuah prosesyang didalamnya terdiri dari lebih banyak proses lagi. Dan salah satu proses
yang paling pelik dihadapi makhluk bernama manusia adalah proses pencarian cinta sejati. Sebelumnya, izinkan saya mengutip sebuah kisah proses pencarian arti. Apa itu cinta.
Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya bias menemukannya?" Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta" Platopun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?" Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tidak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana. Jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tidak sebagus ranting yang tadi. Jadi, tak kuambil sebatangpun akhirnya" Gurunya kemudian
menjawab, "jadi, ya itulah cinta"
Di hari lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu perkawinan? Bagaimana aku bias menemukannya?" Gurunyapun menjawab, "Ada hutan subur di depan sana. Berjalanlah dan tanpa boleh mundur kembali dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan" Platopun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar atau subur dan juga tidak terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja. Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?" Platopun menjawab, "Sebab berdasarkan pengalamanku yang sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi, dikesempatan ini, aku lihat pohon ini dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat. Jadi kuputuskan untuk menebangnya dan kubawa kesini. Aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk endapatkannya. Gurunyapun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan"
Cinta bisa diartikan apa saja. Karena definisi cinta itu memang tak erbatas. Tergantung bagaimana cara memandangnya. Tapi, bila ditelusuri lebih jauh, cinta yang paling hakiki tntu saja cinta pada sang Khalik dan inta-Nya pada makhluk-Nya. Semua berawal dari sana dan akan berakhir disana. Tapi untuk kisah ini, pengertiannya lebih sempit yakni cinta antara dua insan. Cinta yang bisa jadi benar dan bisa jadi salah. Sebenarnya, tidak ada cinta yang salah tapi perlakuan manusialah terhadap cinta yang bias membuatnya menjadi salah. Salah satu perumpamaan saya tentang cinta adalah cinta itu seperti hujan. Sejuk tapi dingin. Romantis tapi dapat membuat sakit. Cinta itu seperti hujan, yang bila berlebih dan tidak ada persiapan untuk menghadapinya maka ia akan menyusahkan.
Ada kisah lain tentang cinta. Seseorang yang kukenal, sebut saja namanya mawar. Gadis ini sangat suka hujan. Sampai akhirnya dia jatuh cinta pada hujan. Hujan adalah bentuk perasaannya yang tak tersampaikan. Hanya mampu menatap, menikmatinya, tapi tak punya daya untuk memilikinya.
Dia bercerita, "Bagaimana aku menyampaikannya? Berada disampingnya, jantungku seperti akan melompat keluar. Bicara dengannya lidahku kelu dan bahasaku kacau. Menatapnya membuatku malu. Bila dia ada di sekitarku, hal yang paling ingin kulakukan adalah kabur dari tempat itu secepatnya, sebelum gravitasi bumi tak berfungsi dan aku akan terlihat konyol di depannya"Aku tak tahu kenapa ini bisa terjadi. Aku terlanjur salah paham padanya. Aku salah paham dengan kehadirannya, dengan suara, sikap dan kebaikan hatinya. Aku tak pernah seperti ini sebelumnya. Ada yang salah padaku."
Mawar menangis. Antara bahagia, bingung dan sedih.
Suatu hari dia membiarkan dirinya basah dalam derasnya hujan. Aneh! Karena di tangannya saat itu tergenggam sebuah payung. Keesokannya dia demam. Panas dingin. Seharian menggigil diatas tempat tidur. Tak berminat minum obat. Katanya, dia ingin menikmati sakitnya. Sakit yang disebabkan oleh perasaannya. Maka benarlah kata Andrea Hirata dalam novel Maryamah Karpovnya, "Kawan, kadang kala cinta dan gila samar bedanya". Mawar selalu tersenyum di saat hujan turun. Terlalu mencintai hujan. Membuat sahabatnya bertanya, "Bila hujan tidak lagi turun dan kemarau berpanjangan. Apa yang terjadi padamu" Mawar menjawab pasti, "dihatiku… hujan tidak pernah berhenti…" Nowan dalam bukunya Pain, Love, Peace, Happiness bertutur: "Cinta adalah pilihan. Cintailah seseorang karena engkau memilih untuk mencintainya. Jadikan itu kepuasan hatimu unuk mencintainya apa adanya. Perubahan apapun yang akan terjadi padanya. Bila engkau tetap mencinta. Itulah cinta yang sesungguhnya." Ada begitu banyak kisah. Bukan hanya hujan. Karena cinta bisa berwujud angin, tanah, api atau lainnya. Dalam serial topeng kaca karya Suzue Miuchi 1988 ada sebuah kisah cinta sandiwara klasik dan kabuki. Oshichi Yaoya, seorang putri tukang sayur, lari ke kuil buddha waktu kota Edo (nama lama Tokyo) terbakar. Disitu dia jatuh cinta pada biksu Kichiza yang mengurus para pengungsi. Sejak kebakaran mereda dia ingin jumpa lagi dengan Kichiza. Cinta yang menggila dan kerinduan yang tak terbendung membuatnya berpikir pendek. Oshichi lalu membakar kotaEdo. Waktu itu pembakar kota harus dihukum mati walaupun demikian Oshichi tetap melakukannya karena yakin akan bertemu Kichiza lagi. Waktu kotaEdo habis terbakar, api dalam hati Oshichipun membakarnya dan akhirnya dia terbakar api yang disulutnya.
Demikianlah cinta. Tidak peduli apakah dia berwujud api ataukah hujan. Dia akan di hati, tetap di hati karena tempatnya memang di hati. Untuk semua orang yang mencinta… Cintailah dia yang membuatmu tersenyum, tertawa, membuatmu berpikir dan berkhayal. Meski mungkin dia terlalu jauh untuk disentuh atau terlalu tinggi untuk digapai. Meski mungkin kau akan sakit, kau akan patah hati, kecewa dan menangis. Tetaplah mencintainya selama cinta itu ada. Karena setelah itu semua kau akan belajar, kau akan semakin dewasa dan bijaksana. Kau akan semakin mengerti arti cinta dan kehidupan. Dan kau akan bisa bertahan menghadapi apapun juga. Seperti kata Nowan lagi dalam buku yang sama. "Segalanya belum tentu adalah cinta namun cinta adalah segalanya"