Bismillah…
Sebuah tulisan seseorang menyentuh dalam di sanubariku. Mengingatkanku akan setiap gumaman dan pembicaraan sekitarku seminggu ini.
Barangkali kelak tulisan ini akan menghajarku di kemudian hari, barangkali tulisan ini akan mencibirku di kemudian hari atau minimal mereka yang tak setuju akan memakiku dalam hati. Toh itu prasangka burukku terhadap tulisan ini, tapi insya Allah prasangka baikku jauh lebih besar dari itu semua. Insya Allah bermanfaat… minimal untuk pribadi yang sering bersikap bodoh ini.
Kemarin… dan hari-hari sebelum kemarin. Yang selalu diperbincangkan adalah hal itu-itu saja. Pembagian uang jasa yang tidak adil, pembagian jasa yang sedikit dan segala hal tentang itu. Sebelum jasa dibagi, maka ributlah semua bertanya “kapan jasa dibagi?” awal bulan, tengah bulan dan akhir bulan, tak hentinya kita bertanya. Dan alhamdulillah setelah di bagi akan ramailah pula kita berkicau mempertanyakan “mengapa saya cuma segini??” meskipun sebagian besar dari kita akan melanjutkannya dengan kalimat syukur “alhamdulillah.. disyukuri saja sedikit banyaknya” (tapi kalo pindah tempat diulangi lagi pertanyaan dan keluhannya)
Seorang kawan berkata padaku, “bukannya kita tidak bersyukur, cuma kalau tidak sesuai dengan pekerjaan dan jasa itu kan tidak adil. Tidak salah kan kita menuntut apa yang memang hak kita?”
Entahlah kawan.. kalian lebih tahu dan lebih cerdas dengan segala keilmuan kalian tentang hal itu.
Bismillah..
Tidak tahu sejauh mana angin materialis ini membawaku.
Sepertinya terlalu jauh, hingga akupun ikut sering mengeluh dan menggerutu
Sedikit kisah juga di pekan yang lalu. Dia yang sangat rajin, tapi mengeluhkan pekerjaannya. Dan dia yang sangat baik dikatakan tidak ikhlas bekerja. Diapun berkata “ikhlasja… ikhlas sekalija kemarin..” tahukah kau kawan? Orang yang sering mengatakan dirinya ikhlas adalah orang yang keikhlasannya dipertanyakan. Pemahaman kita tentang ikhlaslah yang mungkin ingin dipertanyakan lagi.. karena bila kita benar ikhlas karena Allah, mungkinkah kita mengeluhkan apa yang ditetapkan Allah atas kita.
Huaahhh… aku mengeluh lagi…
Untuk apakah aku bekerja? Untuk uang… itu jawaban pasti seperti catatan yang kubaca sebelumnya. Dan alhamdulillah, kudapatkan uang itu setiap bulannya di rekeningku. Lantas jasa itu apa? Maka sebutlah dia sebagai bonus yang bukanlah prioritas, karena aku telah bekerja dan menerima gaji.
Sedikit lagi, kukutip perkataan”ku” lagi. “edede… setengah matikumi kerjai baru seratus ribuji jasaku…”
Begitulah.. aku mengeluh lagi.
Lalu datanglah diriku yang satu. Yang sok tahu. Menceramahiku..
“jadi kalo sedikit jasamu, kau tidak mau kerja pekerjaan wajibmu? Lantas hilangkah nilai gaji yang kau terima berjuta juta itu?”
kudiam saja membiarkan sang diriku berceloteh.
“mengapa kau sibuk memperbincangkan jasa yang sedikit, sedang kau telah memperoleh hakmu. Yaitu gaji yang berjuta-juta dan berjuta-juta pula pengangguran di luar sana menginginkannya.”
“sudah benarkah kerjamu? Laporan datang terlambat, berkas sjp pasien kau selip kesana kemari hingga merugikan tempatmu bekerja. Belum lagi pulpen, kertas dan barang-barang kantor yang tak terhitung banyaknya berada di tas dan rumahmu.”
“itu belum termasuk waktu terlambatmu masuk kantor dan jam-jam kantor dimana kau ada di luar sana. Belum pula termasuk waktu tidur dan ngobrolmu di jam kantormu”
Aku menunduk malu kini….
“pantaskah…? Pantaskah aku menuntut jasa yang sama seperti di instansi yang lain, dimana mereka tak punya waktu untuk duduk sekalipun?”
Sedikit aku berdalih… “tapi, memang nilai jasa kami disini di bawah sekali…”
“dan memang orang-orang tertentu menikmati lebih banyak dari kami. Padahal pekerjaan mereka tidak seberat pekerjaan kami…”
ah.. begitulah manusia keras kepala saat dinasehati. Dia akan mengeluarkan seribu alasan untuk membenarkan setiap kelakuannya. Padahal bila mau sedikit saja menginsafi, barangkali dia dapat hidup tenang tanpa terbebani. Padahal bila ingin sedikit menyadari, patutnya was-was lah yang harusnya menghantui. Suatu saat uang-uang ini akan dimintai pertanggungjawabannya. Dan segala pulpen dan inventaris yang “terikut” pulang akan menjadi bumerang di akhirat nanti.
Ya Allah.. buruknya diri ini. mengapa dia tak mampu bekerja dengan diam? Menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu dan semaksimal mungkin, menjaga agar yang halal yang masuk kedalam mulut, tas dan rumah-rumahnya. Mengapa dia tidak pandai bersyukur? Bukankah bonus itu dari Allah?
Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Fathir ayat 2.)
Ayat ini cukup untuk meyakinkanmu. Rezeki itu seluruhnya dari Allah. Dia-lah yang menurunkan jumlahnya sesuai dengan keinginannya. Dan bila kita merasa rezki kita tertahan, maka seharusnyalah kita bertanya pada diri kita. Mengapa dia tertahan? mungkin karena kita kurang pantas menerimanya. atau mungkin Allah mem-pendingnya untuk sebuah kebaikan dimasa nanti. Allah Maha Tahu dan kita tidaklah lebih tahu.
Sesungguhnya Rosulullah telah menyampaikan bahwa tidak akan mati seorang hamba sampai disempurnakan rezekinya. Ada kisah seorang yang berminggu-minggu koma akhirnya bangun dari komanya. Dia meminta semangkuk bubur. Tidak lama setelah menikmati semangkuk buburnya, meninggallah dia. Ternyata, masih ada semangkuk bubur jatahnya di dunia. Subhanallah…
Ada pula seorang tua yang mendadak terkenal dan menjadi jutawan karena lagunya. Di masa-masa tenarnya dia menemui ajalnya. Innalillah.. Inilah rezeki yang bila memang telah ditetapkan maka tidak akan mati seorang hamba kecuali dia telah menerima semua rezekinya.
Karena rezeki itu telah ditetapkan, maka seharusnyalah kita tenang. Seharuslah kita memperbaiki bagaimana kita mendapatkannya…
“Wahai diriku…
Bagaimana kini? Melihat laporanmu yang amburadul. Sjpmu yang kacau. Ruanganmu yang malas kau bersihkan. Dan jumlah tidur yang lebih banyak daripada kerjamu. Maka? Menuntutlah bila kau tak punya malu…”
Bisik-bisik kujawab dengan penentangan yang pelan…
“kalo malam tidak adaji pasien gaaang.. jadi tidur jeki… :)”
......diriku oh diriku.....
Makassar… 15 Rabiul akhir 1433 H
Biarkanlah aku berpikir... terus berpikir.... Karena kuharap aku termasuk "orang-orang yang berpikir"....
HR. Al-Tirmidzy
"Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, Allah akan mengaruniakan kekayaan dalam hatinya dan akan mengumpulkan untuknya kekuatannya dan dunia akan datang kepadanya dengan penuh ketundukan. Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia. Allah akan meletakkan kefakiran di depan matanya, memecah keutuhannya, sementara dunia hanya akan datang padanya sesuai yang ditakdirkan untuknya" (HR. Al-Tirmidzy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar