Makassar dalam untaian oktober
Bismillah…
Biarkan aku menulis ini. Karena barangkali ini menjadi tulisanku yang terakhir sebelum akhirnya aku pergi dengan penerbangan pertama di hari pertama.
Bagaimana kan kulewati masa ini?
Disaat kecemasan datang silih tak berhenti.
Kecemasan dunia dan kecemasan akhirat.
Aku sungguh tercekat…
Dimanakah orang-orang mati itu?
Mereka sekalipun tak menjawab saat aku sibuk memanggil-manggil
Esok aku pergi…
Apa yang kubawa?
Aku membawa terlalu banyak hal
Sangat banyak.
Amat sangat banyak.
Sehingga beban di punggungku semakin terasa berat dan nyeri pinggangku mulai kembali menggeliat.
Koperku penuh dengan baju dan perlengkapan
Ransel pun kupenuhi buku dan segala peralatan
Tapi andai yang penuh hanya itu maka mungkin tak seberapa penatnya
Aku membawa banyak uang dan beban. Dan keduanya sangat menyebalkan. Aku yang tahu mengapa
Hatiku dipenuhi dosa dan kebaikan. Dan keduanya merisaukanku. Aku juga yang tahu apa sebab
Sedang kepalaku dipenuhi pikiran dan kecemasan.
Bukan sekedar tentang disana tapi juga tentang kelak yang disana.
Dengan semua beban itu, bagaimana aku melangkah?
Kuhela nafasku…
Kupandangi diriku yang bernafas satu-satu
Sedikit lagi yang tersisa tentang waktu
Untuk itu bantu aku..
Kumohon… berdoalah untukku…
Makassar dalam melodi November
Bismillah…
Disini aku kembali berdiri. Di kotaku ini
Dalam senyuman yang tak mau berhenti
Perjalanan jauhku kemarin berakhir dengan kisah-kisah yang kusyukuri
Saat aku menahan nafas diatas awan, dan langit mempersembahkan keindahannya.
Saat mataku basah karena pepohonan tinggi di sekelilingku
Saat sejuk hijau daun teh memenuhi mataku
Saat air yang mengalir jernih di sungai kecil ternyata terus mengalir ke dalam jiwa dan menyentuh sudut yang selalu kotor.
Disitulah dia… mengalir dan menjadi titik haru dimataku.
Subhanallah… Maha Suci Rabb-ku atas alam yang mempesona
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?
Dan tangispun semakin menjadi di mesjid puncak gunung itu.
Subhanallah…
Kini disini..
Bebanku masih begitu.
Sesak dijiwaku masih menyempitkan jalan nafasku.
Tapi sang perjalanan memberiku senyum yang tak mau berhenti
Memberiku pelajaran hakikat dari sebuah arti
Maka meski waktu pulang dengan penerbangan terakhir.
Cuaca buruk merisaukan seolah aku akan jatuh lalu mati.
Disini aku kembali
Dan aku takkan berhenti berlari
Karena aku semakin yakin.. dengan apa yang kuyakini..
Alhamdulillah…
(Ya Robb.. jadikan aku semakin mencintai-Mu.. semakin dan semakin)
Biarkanlah aku berpikir... terus berpikir.... Karena kuharap aku termasuk "orang-orang yang berpikir"....
HR. Al-Tirmidzy
"Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, Allah akan mengaruniakan kekayaan dalam hatinya dan akan mengumpulkan untuknya kekuatannya dan dunia akan datang kepadanya dengan penuh ketundukan. Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia. Allah akan meletakkan kefakiran di depan matanya, memecah keutuhannya, sementara dunia hanya akan datang padanya sesuai yang ditakdirkan untuknya" (HR. Al-Tirmidzy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar