Bismillah…
Makassar dalam untaian
desember…
sunyi semakin mengganggu
barangkali dia berpikir daun
tak akan peduli lagi padanya
hmm.. padahal mungkin saja dia
salah paham.
Matahari akhir-akhir ini sering
bersembunyi
Entah apa yang dipikirnya
Dia cukup senang membuat
segalanya kelabu dan abu-abu
Benarkah ini abu-abu?
Atau hanya perasaan saja,
karena sebenarnya yang terang itu telah jelas
Dan yang gelap itu juga telah
diterangkan
Dan kawan.. ingin kuceritakan padamu. Sebuah epilog pilu dari hati
yang tak tahu dimana dirinya sepatutnya berada. Dirumahnya kah? Disudut
kamarnya? Bersujud disana, menangisi kesalahan hingga ajal menjemputnya? Ato
benar sudah dia berada di tempatnya saat ini?
Ternyata kawan… untuk menggapai kemuliaan itu butuh keberanian dan
dia tak memilikinya.
Hijabmu… apakah hanya hiasan? Atau hanya penutup keburukan sikap
dan prilakumu yang tersembunyi dari orang-orang?
“sesungguhnya Dia mengetahui
pandangan mata yang khianat..”
Janganlah begitu.. sungguh hijab adalah kemuliaan yang harus dijaga
dan dihormati. Bukan sebuah tameng…. Hijabmu harusnya menjadi pengekang
terhadap segala disekelilingmu… harusnya begitu…..
Harusnya memang begitu.
Ya muqollibalqulub tsabbitqolbi ala diiniik….
