HR. Al-Tirmidzy

"Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, Allah akan mengaruniakan kekayaan dalam hatinya dan akan mengumpulkan untuknya kekuatannya dan dunia akan datang kepadanya dengan penuh ketundukan. Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia. Allah akan meletakkan kefakiran di depan matanya, memecah keutuhannya, sementara dunia hanya akan datang padanya sesuai yang ditakdirkan untuknya" (HR. Al-Tirmidzy)

ahlan wa sahlan

27 April 2009

harapan..

Yang membuat manusia tetap bertahan pada satu hal adalah harapan. Saat harapan itu lenyap, maka tak ada alasan baginya untuk bertahan. Cerita ini tentang bagaimana pikiran dan perasaan bisa membuat kita sakit dan sebaliknya, dengan kekuatan pikiran dan perasaan maka kita bisa sembuh.
Kisah seorang gadis, sahabat baikku. Namanya Nina. Dia menceritakan padaku kisahnya, berharap bisa jadi pelajaran bagi orang lain sepertinya.
Nina gadis periang yang selalu tertawa. Kami menyukainya karena dia baik dan ramah. Dia menjalani hidup yang sempurna. Pekerjaan yang bagus walau usianya masih muda, punya kendaraan pribadi, punya keluarga yang hangat dan sahabt-sahabat yang menyayanginya.
Tapi beberapa waktu terakhir ini dia terlihat berbeda. Semua orang mulai mempertanyakan karena tubuhnya semaki kurus saja. Dan bila ditegur seperti itu jawabnya selalu sama.
“saya bukan kurus tapi langsing” jawabnya sembari tertawa.
Bosnya di kantorpun mulai mempertanyakan mengapa dia selalu terlihat lemas dan tanpa semangat. Dan seperti biasa dia hanya tersenyum dan menjawabnya dengan candaan.
Dia tidak sadar bahwa tubuhnya bereaksi terhadap pikiran dan perasaannya. Semakin sedih hatinya, semakin lemah fisiknya. Dia menyukai seseorang, tapi kenyataannya dia tidak tahu apakah pria itu juga memiliki perasaan padanya atau tidak. Tak ada kejelasan. Sikap dan perhatian pria itu diartikannya sebagai tanda bahwa pria itu juga menyimpan rasa.
Lama dia memendam rasa. Dia akhirnya tahu bahwa pria itu menyukai orang lain, tapi harapannya terlalu besar bahwa suatu saat pria itu akan berpaling padanya. Hingga dia sampai pada perasaan rendah diri yang sangat dalam. Menganggap bahwa pria itu tak mungkin menyukainya karena dia jauh berbeda dengan gadis yang disukai pria itu. Semakin dia mengharapkan pria itu semakin dia merasa cemas, gelisah dan semakin rendah rasa percaya dirinya. Terlalu takut bila dia benar-benar akan kehilangan cintanya.
Dalam ketakutannya yang semakin dalam itu, dokter mengatakan dia gejala hepatitis. Dia harus istirahat dan tidak banyak pikiran. Saat itu Nina berpikir bahwa cintanyalah yang membuatnya sakit, namun dia tak mampu berbuat apa-apa selain menangis dan semakin tenggelam dalam kesedihannya.
Seorang sahabat yang tahu kisahnya menyarankan agar dia memberi tahu pria itu. Awalnya dia menolak saran itu, karena dia malu, dia adalah seorang gadis. Tapi, nasihat sahabatnya itu dilakukannya juga. Dia sampaikan pada pria itu secara tidak langsung. Melalui pesan-pesan yang biasa.
Pria itu mengerti maksud Nina. Dia cukup bijak dan membalasnya dengan pesan yang halus dan lembut. Sayang, Nina terlalu takut menerima kenyataan pahit, pesan itu terlalu lembut untuk bisa dipahaminya bahwa itu adalah penolakan. Bagi Nina, pesan itu bisa berarti ya dan bisa berarti tidak.
Semakin resah hatinya, semakin parah sakitnya. Pinggang bawah kirinya mulai terasa nyeri setiap hari. Temannya menyuruhnya pulang saat melihat Nina terbaring menahan sakit di kantornya. Nina tertawa dan mengatakan tidak apa-apa. Temannya yang pernah melihat gejala yang sama pada sanak keluarganya mengatakan bahwa ada kemungkinan ginjal Nina bermasalah. Dan bila dibiarkan maka akan terasa semakin nyeri.
Benar kata temannya itu. Suatu malam, lewat tengah malam, Nina terbangun menangis. Rasa nyeri di pinggangnya tak tertahankan lagi. Sakit sekali. Itu adalah sakit yang paling nyeri yang pernah dia rasakan. Nina menekan kuat pinggangnya dengan kedua tangannya dan meringkuk di tempat tidur untuk mengurangi rasa sakitnya.
Akhirnya Nina sadar, ini telah kelewatan. pikirnya bila pria itu menolaknya, yang paling parah hanyalah dia akan masuk rumah sakit karena kesedihan yang semakin mendalam dan penyakit-penyakitnya akan membunuhnya secara perlahan. Ketakutannya bertambah tapi dia harus melakukan sesuatu. Rasa sakit itu akhirnya membuatnya berani menghubungi pria itu, bertanya langsung, tengah malam itu juga.
Pria itu sangat dewasa dan bijaksana. Dia menasehati Nina dengan lembut. Menjelaskan berbagai hal tentang hidup. Bahwa tidak semua hal di dunia ini harus sesuai dengan harapan. Berbicara lembut tentang hal-hal dalam hidup yang akan indah pada waktunya.
Apa yang ditakutkan Nina ternyata tidak terjadi. Nina mampu menerima kenyataan yang ada. Ikhlas dan tanpa rasa kecewa sama sekali. Saat itu juga rasa nyeri di pinggangnya berkurang.Selama ini dia berpikir bahwa cintanya dalam dan membuatnya sakit. Ternyata dia salah. Ketakutannya yang berlebihanlah yang membuatnya sakit. Ketidak pastian, kecemasan, kesedihan dan rasa rendah dirinya yang hampir membuatnya harus dirawat di rumah sakit.
Malam itu mereka saling bercerita. Nina melarang pria itu tidur. Bercanda. Dengan alasan pria itu harus bertanggungjawab atas kesalahpahamannya selama ini. Dan pria itu membalasnya, melarang Nina menutup telpon karena Nina harus bertanggungjawab karena membuatnya terbangun. Mereka tertawa dan bercanda sampai subuh menjelang.
Pagi harinya Nina ke kantor seperti biasa. Fisiknya masih sedikit lemah tapi semangatnya telah kembali. Seharian dia merenung dan sesekali tertawa karena kebodohannya selama ini. Hari itu dia merasakan kelegaan yang luar biasa dan tertidur lelap di malam harinya. Tidur lelap pertamanya sejak dia sakit.
Nina telah kembali ceria. Harinya dilewati dengan tersenyum dan tertawa. Perasaan cintanya berubah menjadi rasa persaudaraan yang dalam. Dia semakin menghargai pria itu, menganggapnya kakak dan mendoakannya.
Pelajaran baginya dan bagiku juga. Jangan terlalu mencemaskan masa depan yang belum pasti terjadi. Jangan takut kehilangan sesuatu yang dicintai karena tidak ada yang abadi di dunia ini. Beranikan diri mengambil langkah, jangan ragu-ragu. Hadapi setiap resiko yang ada. Hal yang paling menakutkan di dunia ini adalah ketakutan itu sendiri, karena ketakutan itu bila dibiarkan menjadi parah bisa membahayakan diri sendiri. Jalani hidup dengan sabar dan syukuri segala yang terjadi.
Sekarang aku melihat Nina semakin ceria. Sifatnya masih kekanak-kanakan tapi aku tahu dia telah smakin dewasa. Badannya masih kurus tapi wajahnya berseri-seri. Tak ada lagi rasa sakit dan tak ada lagi nyeri. Bila ditanya tentang tubuhnya yang kurus, jawabannya telah berbeda.
“jangan khawatir! Sekarang saya makan tiga kali nambah loh! he..he..” Nina tertawa. Dia benar-benar telah sembuh.