HR. Al-Tirmidzy

"Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, Allah akan mengaruniakan kekayaan dalam hatinya dan akan mengumpulkan untuknya kekuatannya dan dunia akan datang kepadanya dengan penuh ketundukan. Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia. Allah akan meletakkan kefakiran di depan matanya, memecah keutuhannya, sementara dunia hanya akan datang padanya sesuai yang ditakdirkan untuknya" (HR. Al-Tirmidzy)

ahlan wa sahlan

28 April 2013

2 Lantai 4



Bismillahirrahmanirrahim…

Membaca tulisan orang lain selalu membuatku ingin juga menulis…
Maka jadilah aku mengetik lagi di senja ini…
Hujan sore ini mendinginkan segalanya, barangkali hendak meninabobokan mereka yang telah berkutat dengan siang yang terik dan melelahkan…
Hari ini aku dan seorang saudariku berjalan cepat dari lantai 4 sebuah gedung pertemuan yang penuh dengan tawa dan senyuman menuju lantai 4 sebuah rumah sakit yang perbandingannya tentu sebaliknya. Meskipun kami tetap tersenyum dan tertawa di rumah sakit itu, tapi tetap saja suasananya berbeda, karena ada kecemasan di hati semua orang yang ada di sana.
Pembelajaran kehidupan selalu ada setiap saat, lantai 4 yang penuh senyum dan tawa itu membuatku bercerita lagi tentang episode menyebalkan di masa lalu, sangat menyebalkan…. Tapi dari hati yang paling dalam kuucapkan terima kasih banyak kepada para aktris yang terlibat, karena sesuatu yang sangat menyebalkan itu benar-benar menjadi pembuka sebuah kebaikan yang luar biasa akan sebuah rahasia kehidupan, yang pernah sekilas kutahu tapi telah terlupa. Dan kini kupahami kembali, bahkan lebih. Alhamdulillah… Sungguh aku bersyukur akan semua peristiwa di masa lalu…
Dan lantai 4 Rumah Sakit itu mengingatkanku akan kecemasan di masa lalu, kecemasan yang luar biasa saat orang yang paling kami cintai terbaring tak berdaya. Dan alhamdulillah Allah berkenan kami melewatinya dan memberikan tenggang 6 bulan yang indah untuk kami bisa bersama dalam senyum dan tawa, untuk akhirnya berpisah di waktu yang istimewa, di hari yang istimewa. Alhamdulillah…
Selalu ada hikmah yang sangat indah dalam setiap episode kehidupan bila kita menelaahnya. Hal yang menyebalkan yang kualami tetaplah sangatlah menyebalkan tapi bila saja waktu bisa diulang, maka aku tetap memilih untuk mengalaminya. Karena dengan hal menyebalkan itu, kusadari keindahan kehidupan.
Kecemasan yang dulu itu menjadi kenangan yang indah, karena dengannya aku belajar berprasangka baik di saat paling genting sekalipun. Dan aku tak mengingatnya untuk menyesali lalu menangis tersedu-sedu meratapi, melainkan mengenang Beliau dalam kenangan indah untuk belajar ketegaran hidup dan untuk lebih banyak berbuat kebaikan atas nama Beliau. Menurutku, itulah kecintaan dan kerinduan yang benar. Insya Allah…
Kutatap keluar jendela… telah gelap…
Hujan pergi bersembunyi, barangkali karena banyaknya doa dari Lantai 4 gedung yang mengganggunya. Atau terlalu kasihan dengan doa Lantai 4 rumah sakit yang sangat diharapkan pengabulannya.
Sepenggal episode lagi terlewati dan alhamdulillah, ada dua Lantai 4 yang penuh makna.
Terima kasih Ya Allah atas hari ini
….

Post

Bismillah...
Akhirnya menulis lagi.
Hanya sekedar kawan, atas kelelahan yang tak berujung ini.

Lelah dengan kemalasan dan kebodohan ini. Padahal diri tak pernah berhenti berkoar-koar tentang semangat dan cita-cita, tapi ketika semua meredup maka jadi lemahlah juga dirinya.
maka bagaimanakah dia sebenarnya? patutnya dia malu dengan dirinya sendiri...

Hanya ingin menjadi seorang hafidzah saat ini, melanjutkan dengan semangat setoran hapalan yang tertunda pekan lalu. Atau menyelesaikan pekerjaan kantor yang menyita pikiran.

Ya Allah... kepadaMu kuharapkan pertolongan. Agar aku kembali rajin... Kembali bersemangat lagi... seperti sedia kala...

Allahumma aamiin..

15 Desember 2012

Pirangnya Ginkgo bersama Pinknya Sakura



Bismillah…

Sabtu Desember… Satu Safar...

Semburat itu tak lagi terlihat hingga tak tahu apakah dia masih ingin berteman atau telah lari dari peredaran.
Disini sendiri dan sunyi, membiarkan jemari mengukirkan apa saja yang ingin dia ukirkan meski barangkali itu tak terlalu penting.
Masih banyak hal yang penting sebenarnya, tapi kantuk yang merajai ini membuat simfoni malas yang bersekutu dengan pusingnya sang kepala
Bila boleh kubercerita, maka izinkan aku bercerita…. Izinkan sejenak sang penulis amatir ini merangkaikan katanya menjadi sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum kelak. Di kemudian hari….

Daun ginko yang berwarna pirang… seperti itulah perasaan lembut yang memenuhi hatinya. Diharapkannya itu benar dalam setiap kesendiriannya meski dia ragu untuk menjadikan semuanya benar. Karena yang kau pikir benar bisa saja menjadi sesuatu yang sangat salah.
Maka saat bintang bintang dia ajak berdiskusi, mulailah segala hal itu dia sesali. Tapi apakah berguna penyesalan itu bila saat terik datang dia kembali terjatuh dalam kubangan debu yang menghalau matanya untuk melihat terangnya jalan yang dilaluinya?
Sebenarnya… air yang dia pakai untuk menyeka matanya itu adalah sesuatu yang sangat berguna. Sayangnya dia sangat enggan menggunakannya, malah membiarkan semua menutup matanya hingga dia kembali terjatuh di setiap terik yang sama. Memalukan dan menyedihkan sebenarnya…. Seolah ilmu dan cahaya yang pernah dia rengkuh menjadi fatamorgana yang dia lupakan.
Begitu saja dirinya….
Sosok bodoh yang selalu merasa lihai dan pintar. Angkuh padahal dia terlalu idiot bahkan di matanya sendiri. Well… no body s perfect katanya.. alasan sepele yang digunakannya untuk berkelit dari setiap salahnya.
Hmmm…
Bunga bunga di jalan antang itu berguguran di kala kulewat. Merah merona beterbangan… Entah bunga apa namanya, mungkin seperti sakura di musim semi. Menceriakan hati….

Bila saja…
Sungguh bila saja…. Bila kubisa kembali…
kan kukatakan keras keras padanya…. 
“ittaqillah ukhti… takutlah pada Allah…”

18 November 2012

"Bunga akan layu bila tidak kau sirami...."

Apakah aku memilih cinta yang salah?
Atau cinta yang salah memilih aku?

Sungguh setiap mengingat bahwa senyumpun kelak akan ditanya
Maka hilanglah senyum itu.

Salahkan cinta yang menggangguku?
Atau aku yang mulai mengganggunya?

Duhai...
Engkau cinta yang salah, Rabbku akan memurkaiku karenamu.
Bagaimana aku mengusirmu?
Saat tameng kukuatkan di depan hatiku, engkau merasuk dari belakang.
Saat butir penyesalan mengering, engkau datang merayu seolah menghibur

Maka kemanakah kan kubawa lari ketakutanku
ketakutan padamu
ketakutan pada diriku yang tak mampu menolakmu.
serta ketakutanku pada Rabb-ku...


Bismillah...
apakah cintamu itu salah saudariku?
Cinta itu tak salah....
yang salah adalah hal-hal yang menyebabkan cinta itu
dan hal-hal yang dikarenakan cinta itu.
karena sebenarnya kau juga tahu bahwa :
"Bunga akan layu bila tidak kau sirami...."

14 November 2012

Daun Hijau



Bismillah…

Makassar dalam untaian desember…
sunyi semakin mengganggu
barangkali dia berpikir daun tak akan peduli lagi padanya
hmm.. padahal mungkin saja dia salah paham.

Matahari akhir-akhir ini sering bersembunyi
Entah apa yang dipikirnya
Dia cukup senang membuat segalanya kelabu dan abu-abu

Benarkah ini abu-abu?

Atau hanya perasaan saja, karena sebenarnya yang terang itu telah jelas
Dan yang gelap itu juga telah diterangkan


Dan kawan.. ingin kuceritakan padamu. Sebuah epilog pilu dari hati yang tak tahu dimana dirinya sepatutnya berada. Dirumahnya kah? Disudut kamarnya? Bersujud disana, menangisi kesalahan hingga ajal menjemputnya? Ato benar sudah dia berada di tempatnya saat ini?
Ternyata kawan… untuk menggapai kemuliaan itu butuh keberanian dan dia tak memilikinya.
Hijabmu… apakah hanya hiasan? Atau hanya penutup keburukan sikap dan prilakumu yang tersembunyi dari orang-orang?

“sesungguhnya Dia mengetahui pandangan mata yang khianat..”

Janganlah begitu.. sungguh hijab adalah kemuliaan yang harus dijaga dan dihormati. Bukan sebuah tameng…. Hijabmu harusnya menjadi pengekang terhadap segala disekelilingmu… harusnya begitu…..
Harusnya memang begitu.

Ya muqollibalqulub tsabbitqolbi ala diiniik….