Bismillah…
Sabtu Desember… Satu Safar...
Semburat
itu tak lagi terlihat hingga tak tahu apakah dia masih ingin berteman atau
telah lari dari peredaran.
Disini
sendiri dan sunyi, membiarkan jemari mengukirkan apa saja yang ingin dia
ukirkan meski barangkali itu tak terlalu penting.
Masih
banyak hal yang penting sebenarnya, tapi kantuk yang merajai ini membuat
simfoni malas yang bersekutu dengan pusingnya sang kepala
Bila
boleh kubercerita, maka izinkan aku bercerita…. Izinkan sejenak sang penulis
amatir ini merangkaikan katanya menjadi sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum
kelak. Di kemudian hari….
Daun ginko yang berwarna pirang… seperti
itulah perasaan lembut yang memenuhi hatinya. Diharapkannya itu benar dalam
setiap kesendiriannya meski dia ragu untuk menjadikan semuanya benar. Karena
yang kau pikir benar bisa saja menjadi sesuatu yang sangat salah.
Maka saat bintang bintang dia ajak
berdiskusi, mulailah segala hal itu dia sesali. Tapi apakah berguna penyesalan
itu bila saat terik datang dia kembali terjatuh dalam kubangan debu yang
menghalau matanya untuk melihat terangnya jalan yang dilaluinya?
Sebenarnya… air yang dia pakai untuk menyeka
matanya itu adalah sesuatu yang sangat berguna. Sayangnya dia sangat enggan
menggunakannya, malah membiarkan semua menutup matanya hingga dia kembali
terjatuh di setiap terik yang sama. Memalukan dan menyedihkan sebenarnya….
Seolah ilmu dan cahaya yang pernah dia rengkuh menjadi fatamorgana yang dia
lupakan.
Begitu saja dirinya….
Sosok bodoh yang selalu merasa lihai dan
pintar. Angkuh padahal dia terlalu idiot bahkan di matanya sendiri. Well… no
body s perfect katanya.. alasan sepele yang digunakannya untuk berkelit dari
setiap salahnya.
Hmmm…
Bunga bunga di jalan antang itu berguguran
di kala kulewat. Merah merona beterbangan… Entah bunga apa namanya, mungkin seperti sakura di musim
semi. Menceriakan hati….
Bila saja…
Sungguh bila saja…. Bila kubisa kembali…
kan kukatakan keras keras padanya….
“ittaqillah
ukhti… takutlah pada Allah…”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar