Aku duduk di samping kanan mamaku di sofa ruang tamu kami. Bercengkrama bersama kakak dan adikku. Bincang-bincang ringan di siang itu. Kakakku sibuk memasang kancing baju. Adikku duduk tenang tak jauh.
Kumenoleh ke mamaku,
“Ma, mauki naik haji?” aku bertanya padanya spontan. Dengan nada ringan tapi serius.
Entah apa yang ada di hati mamaku, tapi matanya berkaca-kaca.
Dia menjawab mau..
“minta’ka pae uangta’ lima ribu?” ujarku, sementara kakak dan adeku tertawa mendengarnya. Mungkin pikir mereka aku merayu mamaku untuk sekedar minta uang.
“lima ribu akan jadi lima puluh ribu, setelah itu lima ratus ribu, lima juta kemudian jadi lima puluh juta. Kalo lima puluh jutami, naik haji meki’. Kalo bukan tahun depan,ya tahun depannya lagi”lanjutku.
Entah apa yang ada di hati mamaku, tapi matanya meneteskan air mata.
Pembicaraan berlanjut tentang sanak keluarga kami yang baru saja pulang dari tanah suci. Obrolanpun semakin panjang.
“empat tahunki orang mengantri untuk naik haji” itu fakta yang dilontarkan mamaku.
“jangan meki’ khawatir, kalo kita’mi yang mau naik haji, nda pake lamaji. Asal yakinki’. Ada Allah kok” semangatku padanya.
Dalam dhuhaku setelah itu, aku mengiba padaNya. Sepenuhnya berharap padaNya. Mengemis. Memohon-mohon sambil menangis.
Ya Allah, Kau Maha Mendengar. Engkau telah mendengar janjiku pada mamaku. Aku ingin memberangkatkan mamaku naik haji.
Ya Allah… janjiMu adalah benar, maka kumohon jadikanlah janjiku juga benar.
Ya Allah.. Engkau Maha Mengabulkan doa, maka kabulkanlah doaku.
Ya Allah…. Ya Allah… Ya Allah…
Doa yang panjang…
Aku pamit pada mamaku. Dia sedang membersihkan kompor minyak saat kuminta tangannya. Setelah dilap di dasternya, kucium tangan mamaku dan akupun keluar rumah.
Di depan sebuah mesjid aku berhenti. Mesjid itu sedang direnovasi.
Kukeluarkan lima ribu rupiah pemberian mamaku.
Bismillahirrahmanirrahim..
Ya Rabb.. ini lima ribu pertama dana awal mamaku untuk naik haji. Ini ikhtiar pertamaku. Jadikanlah lima puluh juta ya Rabb..
Sungguhpun aku percaya bahwa kuasaMu meliputi segala sesuatu.
Sungguhpun aku yakin pada janjiMu.
Sungguhpun aku yakin padaMu, Ya Rabbku..
Kumasukkan lima ribu itu ke dalam celengan masjid.
Aku tersenyum membayangkan mamaku yang kurus berada di mekkah. Memakai pakaian ihram. Dan membaca allahumma lakbaik…
Tak terasa airmataku meleleh lagi…
Ya Allah… terima kasih sebelumnya..
Alhamdulillah….
Biarkanlah aku berpikir... terus berpikir.... Karena kuharap aku termasuk "orang-orang yang berpikir"....
HR. Al-Tirmidzy
"Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, Allah akan mengaruniakan kekayaan dalam hatinya dan akan mengumpulkan untuknya kekuatannya dan dunia akan datang kepadanya dengan penuh ketundukan. Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia. Allah akan meletakkan kefakiran di depan matanya, memecah keutuhannya, sementara dunia hanya akan datang padanya sesuai yang ditakdirkan untuknya" (HR. Al-Tirmidzy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar